Sarung Sutra Samarinda Berusia 50 Tahun Yang Hampir Punah
![]() |
| Sarung tenun sutra Samarinda produksi Rumah Tenun Aminah Akil berusia 50 tahun koleksi ManikManikAnnie Toraja Gallery (Dok.Anny Marimbunna) |
Sarung Sutra Samarinda Berusia 50 Tahun, Yang Hampir Punah
Sengkang Kabupaten Wajo merupakan penghasil sutra terbesar di provinsi Sulawesi Selatan. Sutra dalam bahasa lokal (Bugis) berarti "sabbe" ciri khas tenun yang menjadi kebanggaan suku Bugis yang digunakan dalam setiap upacara adat, sebagai simbol kebangsawanan, strata sosial masyarakatnya dan juga dijadikan pemberian berharga atau hadiah kepada para kerabat dan orang-orang yang dikasihi, dituakan dan dihormati. Sutra merupakan kain tenun yang istimewa karena bahan bakunya adalah benang yang dibuat dari kepompong ulat sutra
Tahun 2013 menjadi titik balik penemuan tenun sarung sutra Samarinda milik rumah tenun Aminah Akil di perkampungan sutra, desa Pakkanna kecamatan Tanasitolo kabupaten Wajo, provinsi Sulawesi Selatan
Kain sutra Samarinda yang diberi label Aminah Akil pada bagian tenunannya ini adalah koleksi tenun sutra lawas yang berusia kurang lebih 50 tahun yang ditenun khusus oleh keluarga Ibu Hj.Ida Sulawati perajin sutra yang masih meneruskan tradisi keluarganya dalam melestarikan tenun sutra Sengkang
Disebut Sarung tenun sutra Samarinda karena tenun sutra ini zaman dulu dikembangkan oleh sekelompok Bangsawan Bugis dari kerajaan Wajo yang menetap di pesisir sungai Mahakam sekitar tahun 1607 yang berkembang menjadi tradisi di kalangan masyarakat setempat. Mereka mengembangkan corak tenun Bugis mereka dan menciptakan desain baru yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan sarung Samarinda
Sarung tenun sutra Samarinda terkenal akan keindahan dan kelembutannya, motif-motifnya menggambarkan elemen alam seperti tanaman, atau pola geometris. dan setiap motif yang ditenun didalamnya mencerminkan nilai-nilai kehidupan seperti kesabaran, ketekunan, dan harmoni dengan alam.
Saya mengenal tenun sutra Samarinda ini dari Almarhum mertua saya yang dahulu adalah salah satu penggagas tenun sutra lawas ini di Sengkang. Karena permintaan yang cukup tinggi dari Samarinda pada masa itu, sehingga keluarga secara turun temurun mengelola sendiri proses pengolahan benang sutra dan membina kelompok perajin tenun ini tutur Hj Ida Sulawati.
Produksi tenun sarung sutra Samarinda yang dikelola oleh Rumah tenun Aminah Akil sedikit berbeda dengan jenis tenun-tenun sutra lainnya. Selain ditenun dengan alat-alat tradisional yakni alat gedogan, perbedaannya ada pada tahapan proses pengolahan bahan baku benang sutra, dan kain tenun samarinda yang kami hasilkan ini biasanya berukuran empat meter dengan lebar 55 cm tegas Hj.Ida Sulawati.
Berikut adalah proses pengolahan ulat sutra hingga menjadi benang sutra, yaitu:
• Telur
Tahap pertama dari pembuatan benang sutra adalah bertelurnya ngengat sutra (Bombyx mori) yang berwarna putih dan berpola coklat. Ngengat sutra tidak makan atau minum pada akhir siklus hidupnya melainkan akan kawin, bertelur, dan mati.
Ngengat betina akan bertelur dalam jumlah besar, yaitu sekitar 200 hingga 400 butir telur. Ngengat betina akan menaruh dan merekatkan telurnya di atas daun murbey. Telur ngengat kemudian diinkubasi hingga 12 hari hingga menetas.
• Larva
Larva yang baru menetas kemudian dipindahkan dengan hati-hari dari ruang inkubasi ke ruang pemeliharaan. Pada saat larva ulat sutera hanya berukuran 4 mili meter, namun mereka akan terus diberi makan daun murbei.
Tubuh mereka terus membesar, membuat kulit mereka mengelupas dan digantikan kulit yang baru. Proses ganti kulit ini bisa terjadi hingga empat kali hingga larva tumbuh menjadi ulat sutra seukuran kurang lebih 8 cm.
• Kepompong
Setelah cukup makan, ulat kemudian akan membentuk kepompong atau pupa dengan cara memutar tubuhnya. Kepompong sutra terbuat dari lilitan benang yang tidak terputus sepanjang 300 meter dan dililitkan dengan gerakan kepala yang konstan dari satu sisi ke sisi lain sekitar 65 kali per menit.
Kepompong sutra kemudian terbentuk sebagai kapsul berwarna putih. Kepompong sutra kemudian dipanen sebelum ulat sutra berubah menjadi ngengat dan memecah kepompongnya. Panen dilakukan kurang lebih sekitar satu minggu sejam kepompong dibuat.
• Pembuatan benang
Kepompong sutra kemudian direndam dan direbus dengan air panas. Setelah direbus, kepompong akan dicari ujung seratnya dan mulai diurai.
Setelah diurai, serat tersebut kemudian akan dipintal dengan cara dipelintil menjadi satu helai benang sutra.
Perbedaan tahapan proses pembentukan benang sutra dari uraian diatas dengan proses pembentukan benang sutra oleh Rumah Tenun Aminah Akil yaitu terletak pada tahapan Kepompong sutra. Kepompong-kepompong sutra yang tidak sempurnah proses pembentukannya, dimanfaatkan dan diolah dengan inovasi menjadi bahan baku benang sutra berkualitas tinggi yang lebih menyerupai bahan katun sutra (cotton silk), sehingga hasil tenunan sarung sutra Samarinda Aminah Akil sedikit lebih tebal namun sangat halus dan lembut, dengan motif-motif tenun berbentuk geometris, sarat dengan makna dan filosofi budaya bugis serta pewarnaan alam yang didapatkan dari tumbuhan yang tumbuh disekitar wilayah Sengkang.
Desain tenun sutra Samarinda pada event Indonesia International modest Fashion Festival (ISEF) tahun 2022, kolaborasi Aminah Akil, ManikManikAnny_Toraja Gallery & Vee House Indonesia, Fashion Designer : Alvy Oktrisni
Menurut Ibu Hj Ida Sulawati, saat ini sudah tidak banyak regenerasi penenun sutra tradisional di Sengkang yang dapat meneruskan produksi tenun-tenun tradisional termasuk tenun sutra Samarinda ini, dikarenakan bahan baku benang sutra yang sulit didapatkan dan sangat mahal sehingga banyak penenun beralih profesi menjadi petani ataupun nelayan, bahkan hijrah ke negara China menerima tawaran menjadi penenun disana.
Inilah beberapa kendala yang kami hadapi di Sengkang, juga karena maraknya tiruan motif-motif sutra Sengkang berbahan benang viscose dan sejenisnya ataupun tehnik sulam yang didatangkan dari luar wilayah Sengkang yang harganya lebih affordable/terjangkau untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri
Untuk menjaga ekskstensi dan pelestarian sutra Sengkang, maka salah satu upaya kami adalah memberikan edukasi tentang proses tenun sutra Sengkang kepada wisatawan-wisatawan domestik dan wisatawan asing yang berkunjung ke Kampung tenun Pakkanna, sehingga pengunjung akan mengetahui dan dapat membedakan kain sutra yang asli dan kain non sutra pungkas Ibu Hj.Ida Sulawati.
Penulis : Anny Marimbunna




Komentar
Posting Komentar