Tenun Ikat Sekomandi Warisan Seni Budaya Leluhur Suku Kalumpang
Kalumpang juga menyimpan kekayaan alam seni tradisi leluhur ratusan tahun yang unik dan masih terjaga hingga saat ini. Salah satu tradisi yang melekat di suku Kalumpang adalah tradisi menenun yang dikenal dengan tenun ikat tradisional Sekomandi, tepatnya berada di desa Kondobulo dan Karataun Kecamatan Kalumpang Kabupaten Mamuju
Zaman dahulu kala selain dibuat untuk kepentingan sendiri misalnya pakaian adat, tenun ikat ini juga menjadi alat tukar bernilai tinggi yang biasanya dibarter dengan beberapa hewan peliharaan seperti kerbau atau babi
Keunikan kain tenun Ikat Kalumpang ini terdapat pada pola warna dan struktur kain. Semua proses pengerjaannya dilakukan dengan tangan dan atau ditenun dengan menggunakan alat-alat tradisional. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan-bulan untuk memproduksi sehelai kain tenun ikat Sekomandi, karenanya tidak heran apabila kain tenun ini dibandrol dengan harga tinggi hingga puluhan juta rupiah
Penamaan dan pembedaan jenis tenun ikat Kalumpang ini didasarkan pada corak dan pewarnaan dasarnya yaitu Rundun Lolo atau Sekomandi yang memiliki empat atau banyak ornamen warna dan motif. Sedang Marilotong dikenal dengan pewarnaan dasarnya yang berwarna hitam biru dan putih
Proses tenun ikat Kalumpang dilakukan dengan beberapa tahapan. Pada tahap pertama dilakukan pemintalan benang dari kapas yang biasanya diambil dari tanaman kapas yang ditanam penduduk desa di wilayah Kalumpang
Kemudian tahapan kedua adalah mengikat kumpulan benang yang merupakan salah satu teknik sebelum mewarnai benang yang akan ditenun. Tahapan selanjutnya dan merupakan tahapan yang cukup panjang adalah tahapan pewarnaan. Pertama-tama adalah pemberian bahan perekat warna yang terdiri dari cabe sebagai bahan utama, kemiri, lengkuas, jahe, dan kluwak
Sementara itu dibuat pula rendaman abu yang terbuat dari pohon palli atau sejenis kulit kayu, setelah air rendaman diambil dan dicampur dengan perekat warna tadi, campuran perekat warna kemudian dipoleskan ke benang hingga meresap. Tahapan selanjutnya benang dijemur selama kurang lebih 29 hari untuk memperkuat warna dan agar tidak luntur
Benang yang sudah diberi warna dasar biasanya berwarna cream kekuning-kuningan. Benang kemudian diikat perkelompok sekitar 12 helai benang, yang diikatkan pada alat yang disebut "Katadan". Katadan adalah sebuah alat untuk menahan benang pada saat diikat agar rapi, dan benang yang diikat inilah yang nantinya akan membentuk corak kain
Untuk menciptakan motif tertentu, sang penenun sebelumnya tidak membuatkan pola atau sketsa pada benang yang diikat pada Katadan, namun pembuatan pola motif dan sketsa terjadi dalam pikiran dan imajinasi penenun. Uniknya lagi, motif yang dibuat bukan sembarang motif, tetapi motif- motif tersebut ada jenisnya dan memiliki makna. Beberapa jenis motif tenun ikat Sekomandi tersebut seperti motif Ba'ba diata, Lele Sepu', Ulu Karua lepo, Ulu Karua Barinni, Pori dappu, Tosso' Balekoan, Tonoling, dan motif Toboalang
Setelah motif terbentuk, maka dilakukan pewarnaan merah dari akar kayu mengkudu. Benang bermotif tersebut dimasak kemudian dicuci lalu dijemur sampai kering. Setelah kering, kemudian dimasukkan kembali kedalam "Katadan" untuk diikat kedua kalinya.
Proses selanjutnya adalah pemberian pewarnaan hitam dan biru dari daun Tarun dan daun Bilatte yang juga dimasak lalu dikeringkan dan dimasukkan kembali kedalam Katadan untuk diikat kesekian kalinya
Tahap terakhir adalah proses penenunan kain Pada tahap awal, benang yang telah direbus dan diberi warna dibuka tali pengikatnya dengan ekstra hati-hati. Tujuannya agar susunan benang dan susunan warna tidak kacau Benang diikat satu persatu lalu dipasang kealat tenun dan siap ditenun
Marlin Sa'bi seorang Perajin tenun dari desa Bulo yang saat ini masih aktif melestarikan tenun Sekomandi berharap agar hasil tenun di beberapa desa yang ada di Kalumpang mendapatkan pasar yang lebih baik untuk menopang kelangsungan hidup para penenun. Kendala yang kami dapatkan disini adalah tidak adanya pembelian langsung di desa kami, sehingga kami benar-benar harus keluar bepergian sendiri untuk memasarkan hasil kain tenun kami seperti ke Toraja, agar kami mendapatkan modal untuk membeli benang atau kapas pungkas Marlin.
Saat ini sudah tidak banyak orang yang bisa menenun kain ikat Sekomandi, karenanya diperlukan perhatian khusus agar kain warisan leluhur ini tetap lestari. Apalagi motif tenun ikat dari Kalumpang dikenal sebagai salah satu ragam motif tertua di dunia
Penulis : Anny Marimbunna




Komentar
Posting Komentar